Umur Harapan Hidup Warga Kalsel di Bawah Rata-rata


BANJARMASIN--MI: Berdasarkan laporan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) derajat kesehatan warga di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) yang digambarkan melalui Umur Harapan Hidup (UHH), hanya mencapai usia 62,4 tahun yang berarti masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 68,5 tahun.

Rendahnya angka dari UHH di Kalsel ini, terkait..... dengan tingginya angka kematian ibu dan bayi yang di survey di daerah ini pada tahun 2006, kata Kepala Bidang Kehumasan Badan Informasi Daerah (BID) Kalsel, Ismed Setiabakti di Banjarmasin, Senin (11/8).

Melihat kenyataan berbagai langkah terus ditempuh untuk memperbaiki derajat kesehatan tersebut, antara lain dengan mengalokasikan dana untuk membangun aspek kesehatan di daerah ini hingga mencapai 15 persen dari APBD, sebuah upaya yang telah diwujudkan melalui pemenuhan pembiayaan dalam pembangunan bidang kesehatan.

Langkah selanjutnya pemerintah Propinsi Kalsel melakukan pemenuhan terhadap kebutuhan bidan di desa, dengan mengangkat bidan secara bertahap hingga nantinya di setiap satu desa ada satu bidan desa.

Ini merupakan solusi dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi yang masih cukup tinggi yang terjadi di Kalsel, ujarnya.

Sementara Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel berupaya melakukan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi ini dengan berbagai strategi yang meliputi peningkatan SDM Tenaga Kesehatan dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak.

Seperti melakukan pelatihan asuhan persalinan normal untuk bidan, pelatihan penangunggulangan kegawatdaruratan bayi baru lahir bagi dokter anak dan bidan di pelayanan dasar, meningkatan pendidikan bidan dari D1 ke D3 kebidanan dan ke S1.

Upaya lain dengan mengadakan berbagai seminar untuk mendapatkan masukan perluasan pengetahuan yang berekenaan dengan penanganan permasalahan kesehatan ibu dan anak.

Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan warga Kalsel tersebut melalui kebijakan Gubernur Kalsel, Drs. Rudy Arifin kara Ismed Setiabakti adalah memperkuat penerapan program Pelayanan dasar di Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas pembantu dan okasi kesehatan lainnya.

Sekarang ini sedang dikembangkan sebanyak 43 buah Puskesmas PONED di Kalsel yang secara khusus memberikan penanganan kasus ibu hamil persalinan dan bayi baru lahir, serta ditambahnya rumah sakit PONEK di Kabupaten kota untuk mengatasi kegawatdaruratan obstetri dan neonatal, tambahnya.

Penerapan program di pelayanan dasar lainnya sperti penerapan buku KIA untuk seluruh Ibu hamil dan bayi baru melahirkan, pemasangan Stiker P4K (program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi).

Disamping itu terus dilakukan penerapan kemitraan bidan dengan dukun bayi dalam menolong persalinan yang aman.

Hal itu dilakukan karena aspek kesehatan adalah salah satu aspek penentu (determinant factor) dalam pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas, sehingga membangun unsur manusia.

Melalui pembangunan bidang kesehatan ini menjadi bagian yang fundamental dan integral dengan pembangunan pendidikan dalam melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan di Kalsel, demikian Ismed Setiabakti. (Ant/OL-06)



This entry was posted on 18:08 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langgan: Poskan Komentar (Atom) .

0 komentar