Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terutama yang berada di daerah terpencil masih kekurangan tenaga pengajar, akibatnya proses belajar mengajar sering kali tidak berjalan dengan baik....
Plt Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Delta Pasaribu, di Medan, Selasa mengatakan, idealnya perbandingan tenaga pengajar dan siswa adalah 1 : 40 atau setiap guru maksimal memegang 40 siswa.
"Namun hal itu belum dapat diwujudkan sepenuhnya terutama untuk daerah terpencil karena jumlah guru yang masih kurang. Kalau untuk SMK yang ada di kota besar rasio perbandingannya rata-rata sudah mencukupi, tapi untuk daerah terpencil masih jauh dari harapan bahkan ada satu guru yang memegang 60 sampai 80 siswa,"katanya.
Menurut dia, banyak hal yang menyebabkan tenaga pengajar di SMK masih sangat kurang, diantaranya adalah adanya guru-guru yang pensiun sementara penggantinya belum ada.
Selain itu banyak tenaga pengajar yang selama ini mengajar di daerah terpencil pindah ke kota besar dengan alasan keluarga dan ada juga guru yang pindah ke profesi lain.
"Dewasa ini rata-rata jumlah tenaga pengajar memang masih terkonsentrasi di kota-kota besar saja. Hal ini berbanding terbalik dengan yang ada di daerah terpencil,"katanya.
Untuk itu, kata dia, demi mengatasi kekurangan tenaga pengajar untuk SMK, pemerintah pusat telah mengambil kebijakan di tahun 2009 dengan menerima sekitar 40 ribu guru se Indonesia baik lulusan pendidikan maupun non kependidikan.
Ini juga sekaligus mendukung rencana stragetis pemerintah yang akan meningkatkan jumlah SMK tahun 2010 dengan perbandingan 60:40 dengan jumlah SMA dan akan terus meningkat pada tahun 2015 dengan perbandingan 70:30. (Ant/OL-01)
Plt Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Delta Pasaribu, di Medan, Selasa mengatakan, idealnya perbandingan tenaga pengajar dan siswa adalah 1 : 40 atau setiap guru maksimal memegang 40 siswa.
"Namun hal itu belum dapat diwujudkan sepenuhnya terutama untuk daerah terpencil karena jumlah guru yang masih kurang. Kalau untuk SMK yang ada di kota besar rasio perbandingannya rata-rata sudah mencukupi, tapi untuk daerah terpencil masih jauh dari harapan bahkan ada satu guru yang memegang 60 sampai 80 siswa,"katanya.
Menurut dia, banyak hal yang menyebabkan tenaga pengajar di SMK masih sangat kurang, diantaranya adalah adanya guru-guru yang pensiun sementara penggantinya belum ada.
Selain itu banyak tenaga pengajar yang selama ini mengajar di daerah terpencil pindah ke kota besar dengan alasan keluarga dan ada juga guru yang pindah ke profesi lain.
"Dewasa ini rata-rata jumlah tenaga pengajar memang masih terkonsentrasi di kota-kota besar saja. Hal ini berbanding terbalik dengan yang ada di daerah terpencil,"katanya.
Untuk itu, kata dia, demi mengatasi kekurangan tenaga pengajar untuk SMK, pemerintah pusat telah mengambil kebijakan di tahun 2009 dengan menerima sekitar 40 ribu guru se Indonesia baik lulusan pendidikan maupun non kependidikan.
Ini juga sekaligus mendukung rencana stragetis pemerintah yang akan meningkatkan jumlah SMK tahun 2010 dengan perbandingan 60:40 dengan jumlah SMA dan akan terus meningkat pada tahun 2015 dengan perbandingan 70:30. (Ant/OL-01)
This entry was posted
on 18:25
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
.


0 komentar