Kalimantan Selatan adalah salah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Banjarmasin.
Provinsi ini mempunyai 11 kabupaten dan 2 kota. DPRD Kalsel dengan surat keputusan no.2 tahun 1989 tanggal 31 Mei 1989 menetapkan 14 Agustus 1950 sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan. Tanggal 14 Agustus 1950 melalui Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 1950, merupakan tanggal dibentuknya sepuluh provinsi, setelah pembubaran RIS, salah satunya provinsi Kalimantan dengan gubernur Dokter Moerjani.

Sejarah
8000 SM :Migrasi I, Manusia ras Austrolomelanesia mendiami gua-gua di pegunungan Meratus. Ras ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong.
2500 SM : Migrasi II yaitu bangsa Melayu Proto dari pulau Formosa ke pulau Borneo yang menjadi nenek moyang suku Dayak (rumpun Ot Danum).
1500 SM : Migrasi bangsa Melayu Deutero ke pulau Borneo.
400 : Migrasi orang India (Tamil) menyebarkan agama Hindu ke Kalimantan, bersamaan dengan migrasi orang Sumatera yang membawa bahasa Melayu dan mulai tumbuhnya Bahasa Banjar Hulu.
520 : Munculnya Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu.
600 : Suku Dayak Maanyan melakukan migrasi ke pulau Bangka selanjutnya ke Madagaskar.
1200 : Ampu Jatmika mendirikan pemukiman dan Candi Laras dengan pondasi tiang pancang ulin yang disebut kalang-sunduk di wilayah rawa daerah aliran sungai Tapin dan menobatkan dirinya sebagai raja Kerajaan Negara Dipa.
1200 : Ampu Jatmika menaklukan penduduk asli wilayah Banua Lima yaitu lima daerah aliran sungai (DAS) yaitu Batang Alai, Tabalong, Balangan, Pitap, dan Amandit serta daerah perbukitan (Bukit), selanjutnya mendirikan Candi Agung di Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara.
1360 : Lambung Mangkurat, Patih Kerajaan Negara Dipa berangkat ke Majapahit untuk melamar Raden Putra, sebagai calon suami Putri Junjung Buih.
1362 : Wilayah Barito, Tabalong dan Sawuku menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Hancurnya Kerajaan Nan Sarunai, kerajaan Suku Dayak Maanyan karena serangan Majapahit. Pangeran Suryanata dari Majapahit berhasil menjadi raja Negara Dipa.
1400 : Masa Kerajaan Negara Daha, Raden Sekarsungsang menjadi Raja pertama.
1526 : Banjarmasih, pemukiman Olohmasih, dipimpin Patih Masih.
1526-1550 : Masa pemerintahan Pangeran Samudera (Raja I) di Kerajaan Banjar. Setelah mendapat dukungan Kesultanan Demak untuk lepas dari Kerajaan Negara Daha.
24 September 1526/6 Zulhijjah 932 H : Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.
1550-1570 : Masa pemerintahan Sultan Rahmatullah (Raja II) di Banjarmasin
1570-1620 : Masa pemerintahan Sultan Hidayatullah (Raja III) di Banjarmasin
1520-1620 : Masa pemerintahan Sultan Musta'inbillah (Raja IV) di Banjarmasin hingga 1612.
1596 : Belanda merampas 2 jung lada dari Banjarmasin yang berdagang di Kesultanan Banten.
7 Juli 1607 : Ekspedisi Belanda dipimpin Koopman Gillis Michaelszoon tiba di Banjarmasin.
1612 : Belanda menembak hancur Banjar Lama (kampung Keraton) di Kuin]], sehingga ibukota kerajaan dipindahkan dari Banjarmasin ke Martapura.
1734-1759 : Masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I di Martapura.
14 Mei 1787 : Pangeran Amir (kakek Antasari) ditangkap Belanda, selanjutnya diasingkan ke Srilangka, setelah mengadakan perlawanan terhadap Belanda dengan 3000 pengikutnya.
15 Muharam 1251 H/1825 : Undang Undang Sultan Adam (UUSA 1825).
1859 : Sultan Tamjidillah yang disetujui Belanda sebagai raja Banjar, diturunkan dari tahta dan diasingkan ke Bogor.
11 November 1858 : Pertama kali meletusnya Perang Banjar, dipimpin Pangeran Antasari.
28 April 1859 : Pasukan Antasari menyerang tambang batubara milik Belanda di Pengaron, Banjar.
17 Agustus 1860 : Pangeran Antasari mendirikan Benteng Tabalong.
4 Mei 1861 : Pertempuran Paringin antara pasukan Antasari melawan Belanda.
14 Maret 1862 (13 Ramadhan 1278 H) : Pangeran Antasari ditabalkan sebagai Panembahan.
1899 : Residen C.A Kroesen memimpin Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo
24 Januari 1905 : Sultan Muhammad Seman, putra Pangeran Antasari gugur melawan Belanda.
1915 : Sarekat Islam mendirikan Madrasah Darussalam di Martapura.
1919 : Banjarmasin mendapat otonom pemerintahan menjadi Gemeente Bandjermasin.
1923 : National Borneo Congres ke-1
29-31 Maret 1924 : National Borneo Congres ke-2, dihadiri wakil-wakil Perserikatan Dayak dan Sarekat Islam lokal.
5 Maret 1930 : Keluarnya ketetapan no. 253 dan 254 tentang berdirinya cabang Muhammadiyah di Banjarmasin dan Alabio
1938 : Wester afdeeling van Borneo, Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo menjadi sebuah propinsi di Hindia Belanda. Gemeente Bandjermasin ditingkatkan menjadi Stads Gemeente Bandjermasin.
25 Desember 1941 : Jepang membom Lapangan Terbang Ulin
21 Januari 1942 : Jepang menembak jatuh pesawat Catalina-Belanda di sungai Barito perairan Alalak, Barito Kuala,
8 Februari 1942 : Jepang memasuki Muara Uya, Tabalong, Gubernur Haga mengungsi ke Kuala Kapuas menuju Puruk Cahu, Murung Raya.
10 Februari 1942 : Tentara Jepang memasuki Banjarmasin, sejak 6 Februari 1942 pemerintahan kota sudah vacum.
Februari 1942 : Dengan persetujuan walikota Banjarmasin H. Mulder dibentuk Pimpinan Pemerintahan Civil (PPC) diketuai Mr. Rusbandi, sebagai pemerintahan sementara.
12 Februari 1942 : Tentara Jepang mengeluarkan maklumat kota Bajarmasin dan daerahnya diserahkan kepada PPC (Pimpinan Pemerintahan Civil)
5 Maret 1942 : A.A Hamidhan menerbitkan surat kabar Kalimantan Raya
18 Maret 1942 : Kiai Pangeran Musa Ardi Kesuma ditunjuk Jepang sebagai Ridzie, penguasa penuh dan tertinggi pemerintah sipil meliputi wilayah Banjarmasin, Hulu Sungai dan Kapuas-Barito (Dayak Besar).
17 April 1945 : Rakyat Banjarmasin mulai diwajibkan memberi hormat dengan membungkukkan badan kepada setiap tentara Jepang baik yang naik sepeda, mobil dan sebagainya.
6 Mei 1945 : Pembentukan TRI pasukan MN 1001, MKTI (MN=Muhammad Noor)
18 Agustus 1945 : Pemerintahan Sukarno-Hatta menunjuk Ir. H. Pangeran Muhammad Noor sebagai gubernurKalimantan
23 Agustus 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GEMIRI (Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia) di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
Agustus 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Badan Pemberontak Rakyat Kalimantan di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
23 September 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Pasukan Berani Mati di Alabio, Hulu Sungai Utara.
November 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Laskar Syaifullah di Haruyan, Hulu Sungai Tengah.
20 November 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GERPINDOM (Gerakan Rakyat Pengajar/Pembela Indonesia Merdeka) di Amuntai, Hulu Sungai Utara.
1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GERPINDOM (Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka) di Birayang, Hulu Sungai Tengah, Barisan Pelopor Pemberontakan (BPPKL) di Martapura, Banjar dan Banteng Borneo di Rantau, Tapin serta Laskar Hasbullah di Martapura, Pelaihari, Rantau dan Hulu Sungai.
7 Desember 1945 : Pertempuran Marabahan di Barito Kuala.
21 Desember 1948 : Pertempuran Hawang, Hulu Sungai Tengah.
2 Januari 1949 : Pertempuran di Negara di Hulu Sungai Selatan (Palagan Nagara).
6 Februari : Pertempuran Pagatan di Tanah Bumbu.
17 Mei 1949 : Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan oleh Letkol. Hasan Basry (Pahlawan Nasional).
3 Juni 1949 : Pertempuran Serangan Umum Kota Tanjung di Tabalong.
15 April 1949 : Pertempuran Batakan di Tanah Laut.
8 Agustus 1949 : Pertempuran Garis Demarkasi di Karang Jawa, Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
9 November 1949 : Pertempuran di Banjarmasin.
1 Mei 1952 : Berdirinya Kabupaten Amuntai.
14 Januari 1953 : Perubahan nama Kabupaten Amuntai menjadi Kabupaten Hulu Sungai Utara.
23 September 1953 : Wafatnya Ratu Zaleha, putri Sultan Muhammad Seman, sebelumnya diasingkan di Cianjur.
7 Desember 1956 : Terbentuknya provinsi Kalsel yaitu gabungan dari Kotawaringin, Dayak Besar, Daerah Banjar dan Federasi Kalimantan Tenggara. Belakangan Pasir (bagian Federasi Kalimantan Tenggara) bergabung ke provinsi Kalimantan Timur.
23 Mei 1957 : Wilayah Kotawaringin dan Dayak Besar membentuk provinsi Kalimantan Tengah.
10 November 1991 : Peresmian Museum Wasaka oleh Gubernur Kalsel Ir. H. Muhammad Said
23 Mei 1997 : Peristiwa Jumat Kelabu di Banjarmasin, kampanye pemilu yang berakhir kerusuhan bernuansa SARA (partai)
2005 : Terpilihnya H. Rudi Arifin sebagai gubernur untuk masa jabatan 2005-2009
Kelompok etnik di Kal-Sel menurut Museum Lambung Mangkurat, antara lain :
Orang Banjar Kuala, Banjarmasin sampai Martapura,
Orang Banjar Batang Banyu, Margasari sampai Kelua
Orang Banjar Pahuluan, Tanjung sampai Pelaihari (luar Martapura)
Suku Barangas di Berangas, Ujung Panti, Lupak, Aluh Aluh
Suku Bakumpai di Bakumpai, Marabahan, Kuripan, Tabukan
Suku Maanyan: Dayak Warukin, Pasar Panas, Dayak Balangan,Dayak Samihim
Suku Abal di Kampung Agung sampai Haruai
Suku Dusun Deyah di Muara Uya, Gunung Riut, Upau
Suku Lawangan di , Muara Uya Utara
Suku Bukit di Awayan(Dayak Pitap), Haruyan, Hantakan, Loksado, Piani, Paramasan, Bajuin, Riam Adungan, Sampanahan, Hampang
Orang Madura Madurejo di Pengaron, Mangkauk
Orang Jawa Tamban di Purwosari
Orang Cina Parit di Pelaihari
Suku Bajau di Kotabaru, Tanjung Batu
Orang Bugis Pagatan di Pagatan
Suku Mandar di pulau Laut dan pulau Sebuku
(Sumber : Peta alam dan foto kelompok etnik Kalimantan Selatan, Museum Lambung Mangkurat).
Delapan etnik terbanyak di Kal-Sel menurut sensus 2000 (Dalam sensus belum disebutkan beberapa suku kecil yang merupakan penduduk asli) :Nomor Sukubangsa Jumlah
1. suku Banjar 2.271.586 jiwa
2. suku Jawa 391.030 jiwa
3. suku Bugis 73.037 jiwa
4. Suku Madura 36.334 jiwa
5. Suku Bukit (Dayak Meratus) 35.838 jiwa
6. Suku Mandar 29.322 jiwa
7. Suku Bakumpai 20.609 jiwa
8. Suku Sunda 18.519 jiwa
9. Suku-suku lainnya 99.165 jiwa
Kelompok etnik berdasarkan urutan keberadaannya di Kalsel:
Austrolo-Melanosoid (sudah punah)
Dayak (rumpun Ot Danum)
Suku Dayak Bukit
Suku Banjar (1526)
Suku Bajau, Suku Bugis (1750), Suku Mandar
Suku Jawa, Suku Madura
Etnis Tionghoa-Indonesia, Etnis Arab-Indonesia
Etnis Eropa (1860-1942, sudah punah)
Bahasa Daerah
Bahasa Melayu Lokal :
Bahasa Banjar (bjn)
Dialek Banjar Hulu
Dialek banjar Kuala
Bahasa Barangas)
Bahasa Melayu Bukit (bvu)
Bahasa Barito
Barito barat
Barito barat bagian selatan :
Bahasa Bakumpai [bkr]
Barito timur
Barito timur bagian utara :
Bahasa Lawangan-Pasir(lbx)
Barito timur bagian Tengah-Selatan
Bagian Tengah :
Bahasa Dusun Deyah [dun]
Bagian Selatan :
Bahasa Maanyan [mhy]
Agama
Mayoritas Islam
Daftar Kabupaten dan KotaNo. Kabupaten/Kota Ibu kota
1. Kabupaten Balangan Paringin
2. Kabupaten Banjar Martapura
3. Kabupaten Barito Kuala Marabahan
4. Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kandangan
5. Kabupaten Hulu Sungai Tengah Barabai
6. Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai
7. Kabupaten Kotabaru Kotabaru
8. Kabupaten Tabalong Tanjung
9. Kabupaten Tanah Bumbu Batulicin
10. Kabupaten Tanah Laut Pelaihari
11. Kabupaten Tapin Rantau
12. Kota Banjarbaru -
13. Kota Banjarmasin -
Daftar gubernur
Mulai dari 1945-1957 gubernur mengepalai provinsi Kalimantan
1. Ir. Pangeran Muhammad Noor 2 September 1945 -
2. dr. Murjani 14 Agustus 1950 1953
3. Mas Subarjo 1953 1955
4. Raden Tumenggung Arya Milono 1955 1957
Selanjutnya tahun 1957 sebutan provinsi Kalimantan menjadi Provinsi Kalimantan Selatan
1. Syarkawi 1957 1959
2. Maksid 1959 1963
3. Abu Jahid Bastomi 1963 1963
4. Aberani Sulaiman 1963 1968
5. Jamani 1968 1970
6. Subarjo Sosroroyo 1970 1980
7. Mistar Cokrokusumo 1980 1984
8. Muhammad Said 1984 1995
9. Gusti Hasan Aman 1995 2000
10. Sjachriel Darham 2000 Maret 2005
11. Tursandi Alwi Maret 2005 5 Agustus 2005 Penjabat Gubernur
12. Rudy Ariffin 5 Agustus 2005 sekarang
Daerah Pemilihan DPR 2009
Nomor Daerah Jumlah kursi
1 Kalimantan Selatan I 6 kursi
2 Kalimantan Selatan II 5 kursi
Daerah Pemilihan DPRD 2009
Nomor Daerah Jumlah kursi
1 Kalimantan Selatan I - kursi
2 Kalimantan Selatan II - kursi
3 Kalimantan Selatan III - kursi
4 Kalimantan Selatan IV - kursi
5 Kalimantan Selatan V - kursi
6 Kalimantan Selatan VI - kursi
Seni dan Budaya
Seni Karawitan
Gamelan Banjar
Musik Panting (suku Banjar)
Musik Kangkurung/Kukurung (suku Dayak Bukit)
Musik Bumbung
Musik Kintung
Musik Kangkanong
Musik Salung
Musik Suling
Musik Bambang
Musik Masukkiri (suku Bugis)
Teater tradisional dan wayang
Mamanda (teater tradisional suku Banjar)
Lamut (suku Banjar)
Madihin (suku Banjar)
Wayang Kulit Banjar (suku Banjar)
Wayang Gung (wayang orang suku Banjar)
Balian(suku Dayak Bukit)
Tarian
Tarian suku Banjar:
Baksa Kambang
Radap Rahayu
Kuda Gepang
Tarian suku Banjar lainnya
Tarian suku Dayak Bukit:
Tari Tandik Balian
Tari Babangsai (tarian ritual, penari wanita)
Tari Kanjar (tarian ritual, penari pria)
Lagu
Lagu Daerah suku Banjar:
Ampar-Ampar Pisang
Sapu Tangan Babuncu Ampat
Paris Barantai
Lagu daerah Banjar lainnya
Rumah Adat
Rumah Adat Suku Banjar disebut Rumah Bubungan Tinggi Rumah Adat Suku Dayak Bukit disebut Balai
Pakaian Adat
Busana Pengantin Banjar
Pakaian Pengantin Suku Banjar ada 4 jenis:
Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut
Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari
Pengantin Babaju Kun Galung Pacinan
Pangantin Babaju Kubaya Panjang
Pakaian Pemuda Pemudi:
Pakaian Nanang dan Galuh Banjar
Pariwisata
Banjarmasin
Komplek Makam Sultan Suriansyah
Komplek Makam Pangeran Antasari
Masjid Sultan Suriansyah
Pasar Terapung Muara Kuin
Pasar Terapung Lok Baintan
Festival Nanang dan Galuh Banjar
Museum Wasaka
Kubah Surgi Mufti
Sasirangan
Banjarbaru
Museum Lambung Mangkurat
Barito Kuala
Pulau Kembang
Pulau Kaget
Hulu Sungai Selatan
Loksado (Wisata Alam Pegunungan dan Arung Jeram, Balian)
Peninggalan Sejarah dan Purbakala
Peninggalan sejarah dan purbakala :
Masjid Sultan Suriansyah di Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin
Komplek Makam Sultan Suriansyah di Banjarmasin Utara, Banjarmasin
Komplek Makam Pangeran Antasari di Banjarmasin Tengah, Banjarmasin
Makam Surgi Mufti di Surgi Mufti,Banjarmasin Tengah, Banjarmasin
Makam Ratu Zaleha di Banjarmasin Tengah, Banjarmasin
Rumah Bubungan Tinggi Teluk Selong Ulu di Teluk Selong Ulu, Martapura, Banjar
Rumah Gajah Baliku Teluk Selong Ulu di Teluk Selong, Martapura, Banjar.
Rumah Balai Bini Desa Teluk Selong Ulu di desa Teluk Selong Ulu, Martapura, Banjar.
Rumah Palimbangan Desa Pasayangan di Pasayangan, Martapura, Banjar.
Makam Datu Ambulung di Martapura, Banjar.
Masjid Jami Sungai Batang di Martapura, Banjar
Monumen ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Gambut, Banjar
Makam Sultan Adam di Kelurahan Jawa Martapura, Banjar
Makam Sultan Inayatullah di Kampung Keraton Martapura, Banjar
Makam Sultan Sulaiman Saidullah di Desa Lihung, Karang Intan, Banjar
Benteng Tabanio di Tanah Laut
Makam Keramat Istana, di Tanah Laut
Makam Datu Ingsat di Tanah Laut
Candi Laras di Kecamatan Candi Laras Selatan, Tapin
Masjid Almukarromah di Banua Halat Kiri, Tapin
Makam Datu Sanggul di Tatakan, Tapin
Masjid Gadung Keramat di Tapin
Rumah Bubungan Tinggi Desa Lawahan, Tapin
Masjid Su'ada di Wasah Hilir, Simpur, Hulu Sungai Selatan
Benteng Gunung Madang, di Sei Madang, Hulu Sungai Selatan
Makam Haji Saadudin di Taniran, di Hulu Sungai Selatan
Makam Datu Patinggi Mandapai di Hulu Sungai Selatan
Makam Tumpang Talu di Hulu Sungai Selatan
Gedung Musyawaratutthalibin di Simpur, Hulu Sungai Selatan
Rumah Bubungan Tinggi Desa Tibung di Kandangn, Hulu Sungai Selatan
Rumah Bubungan Tinggi Desa Baruh Kambang di Negara, Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan
Rumah Bubungan Tinggi Desa Habirau di Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan
Rumah Perjuangan di Karang Jawa, Kandangan, Hulu Sungai Selatan
Rumah Perjuangan di Durian Rabung, Hulu Sungai Selatan
Rumah Bersejarah di Simpur, Hulu Sungai Selatan
Monumen 17 Mei, Niih, di Hulu Sungai Selatan
Masjid Keramat Pelajau di Hulu Sungai Tengah
Makam 23 Pejuang di Hulu Sungai Tengah
Makam Pangeran Kacil di Hulu Sungai Tengah
Makam Tumenggung Jayapati di Hulu Sungai Tengah
Candi Agung di Paliwara, Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara
Masjid Tua Sungai Banar di Hulu Sungai Utara
Masjid Jami Assuhada di Hulu Sungai Utara
Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi di Hulu Sungai Utara
Masjid Basar Pandulangan di Hulu Sungai Utara
Masjid Pusaka dan Makam Penghulu Rasyid di Banua Lawas, Tabalong
Makam Gusti Buasan di Tabalong
Masjid Jami Puain Kanan di Tanta, Tabalong
Goa Babi di Desa Randu, Muara Uya, Tabalong
Makam Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari di Kelua, Tabalong
Makam Ratu Intan di Bakau, Pamukan Utara, Kotabaru
Kompleks Makam Raja-raja Kotabaru di Pulau Laut Utara, Kotabaru
Makam Syekh Haji Muhammad Arsyad di Tanah Bumbu
Makam Pangeran Agung di Tanah Bumbu
Makam Haji Japeri di Barito Kuala
Makam Panglima Wangkang di Marabahan, Barito Kuala
Rumah Bulat (Rumah Joglo Desa Penghulu) di desa Penghulu, Marabahan, Barito Kuala
Rumah Gajah Baliku Desa Penghulu di Marabahan, Barito Kuala
Makam Datuk Aminin di Barito Kuala
Rujukan
de Bruyn, W.K.H.F.; Bijdrage tot de kennis van de Afdeeling Hoeloe Soengai, (Zuider a Ooster Afdeeling van Borneo), 19--.
Broersma, R.;Handel en Bedrijf in Zuiz Oost Borneo, S'Gravenhage, G. Naeff, 1927.
Eisenberger, J.; Kroniek de Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo, Bandjermasin, Drukkerij Lim Hwat Sing, 1936.
Bondan, A.H.K.; Suluh Sedjarah Kalimantan, Padjar, Banjarmasin, 1953.
Ras, J.J.; Hikajat Bandjar, A study in Malay Histiography, N.V. de Ned. Boeken, Steen Drukkerij van het H.L. Smits S'Graven hage, 1968.
Heekeren, C. van.; Helen, Hazen en Honden Zuid Borneo 1942, Den Haag, 1969.
Riwut, Tjilik; Kalimantan Memamnggil, Penerbit Endang, Djakarta.
Saleh, Idwar; SEJARAH DAERAH TEMATIS Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan, Depdikbud, Jakarta, 1986.
Provinsi ini mempunyai 11 kabupaten dan 2 kota. DPRD Kalsel dengan surat keputusan no.2 tahun 1989 tanggal 31 Mei 1989 menetapkan 14 Agustus 1950 sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan. Tanggal 14 Agustus 1950 melalui Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 1950, merupakan tanggal dibentuknya sepuluh provinsi, setelah pembubaran RIS, salah satunya provinsi Kalimantan dengan gubernur Dokter Moerjani.

Sejarah
8000 SM :Migrasi I, Manusia ras Austrolomelanesia mendiami gua-gua di pegunungan Meratus. Ras ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong.
2500 SM : Migrasi II yaitu bangsa Melayu Proto dari pulau Formosa ke pulau Borneo yang menjadi nenek moyang suku Dayak (rumpun Ot Danum).
1500 SM : Migrasi bangsa Melayu Deutero ke pulau Borneo.
400 : Migrasi orang India (Tamil) menyebarkan agama Hindu ke Kalimantan, bersamaan dengan migrasi orang Sumatera yang membawa bahasa Melayu dan mulai tumbuhnya Bahasa Banjar Hulu.
520 : Munculnya Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu.
600 : Suku Dayak Maanyan melakukan migrasi ke pulau Bangka selanjutnya ke Madagaskar.
1200 : Ampu Jatmika mendirikan pemukiman dan Candi Laras dengan pondasi tiang pancang ulin yang disebut kalang-sunduk di wilayah rawa daerah aliran sungai Tapin dan menobatkan dirinya sebagai raja Kerajaan Negara Dipa.
1200 : Ampu Jatmika menaklukan penduduk asli wilayah Banua Lima yaitu lima daerah aliran sungai (DAS) yaitu Batang Alai, Tabalong, Balangan, Pitap, dan Amandit serta daerah perbukitan (Bukit), selanjutnya mendirikan Candi Agung di Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara.
1360 : Lambung Mangkurat, Patih Kerajaan Negara Dipa berangkat ke Majapahit untuk melamar Raden Putra, sebagai calon suami Putri Junjung Buih.
1362 : Wilayah Barito, Tabalong dan Sawuku menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Hancurnya Kerajaan Nan Sarunai, kerajaan Suku Dayak Maanyan karena serangan Majapahit. Pangeran Suryanata dari Majapahit berhasil menjadi raja Negara Dipa.
1400 : Masa Kerajaan Negara Daha, Raden Sekarsungsang menjadi Raja pertama.
1526 : Banjarmasih, pemukiman Olohmasih, dipimpin Patih Masih.
1526-1550 : Masa pemerintahan Pangeran Samudera (Raja I) di Kerajaan Banjar. Setelah mendapat dukungan Kesultanan Demak untuk lepas dari Kerajaan Negara Daha.
24 September 1526/6 Zulhijjah 932 H : Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.
1550-1570 : Masa pemerintahan Sultan Rahmatullah (Raja II) di Banjarmasin
1570-1620 : Masa pemerintahan Sultan Hidayatullah (Raja III) di Banjarmasin
1520-1620 : Masa pemerintahan Sultan Musta'inbillah (Raja IV) di Banjarmasin hingga 1612.
1596 : Belanda merampas 2 jung lada dari Banjarmasin yang berdagang di Kesultanan Banten.
7 Juli 1607 : Ekspedisi Belanda dipimpin Koopman Gillis Michaelszoon tiba di Banjarmasin.
1612 : Belanda menembak hancur Banjar Lama (kampung Keraton) di Kuin]], sehingga ibukota kerajaan dipindahkan dari Banjarmasin ke Martapura.
1734-1759 : Masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I di Martapura.
14 Mei 1787 : Pangeran Amir (kakek Antasari) ditangkap Belanda, selanjutnya diasingkan ke Srilangka, setelah mengadakan perlawanan terhadap Belanda dengan 3000 pengikutnya.
15 Muharam 1251 H/1825 : Undang Undang Sultan Adam (UUSA 1825).
1859 : Sultan Tamjidillah yang disetujui Belanda sebagai raja Banjar, diturunkan dari tahta dan diasingkan ke Bogor.
11 November 1858 : Pertama kali meletusnya Perang Banjar, dipimpin Pangeran Antasari.
28 April 1859 : Pasukan Antasari menyerang tambang batubara milik Belanda di Pengaron, Banjar.
17 Agustus 1860 : Pangeran Antasari mendirikan Benteng Tabalong.
4 Mei 1861 : Pertempuran Paringin antara pasukan Antasari melawan Belanda.
14 Maret 1862 (13 Ramadhan 1278 H) : Pangeran Antasari ditabalkan sebagai Panembahan.
1899 : Residen C.A Kroesen memimpin Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo
24 Januari 1905 : Sultan Muhammad Seman, putra Pangeran Antasari gugur melawan Belanda.
1915 : Sarekat Islam mendirikan Madrasah Darussalam di Martapura.
1919 : Banjarmasin mendapat otonom pemerintahan menjadi Gemeente Bandjermasin.
1923 : National Borneo Congres ke-1
29-31 Maret 1924 : National Borneo Congres ke-2, dihadiri wakil-wakil Perserikatan Dayak dan Sarekat Islam lokal.
5 Maret 1930 : Keluarnya ketetapan no. 253 dan 254 tentang berdirinya cabang Muhammadiyah di Banjarmasin dan Alabio
1938 : Wester afdeeling van Borneo, Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo menjadi sebuah propinsi di Hindia Belanda. Gemeente Bandjermasin ditingkatkan menjadi Stads Gemeente Bandjermasin.
25 Desember 1941 : Jepang membom Lapangan Terbang Ulin
21 Januari 1942 : Jepang menembak jatuh pesawat Catalina-Belanda di sungai Barito perairan Alalak, Barito Kuala,
8 Februari 1942 : Jepang memasuki Muara Uya, Tabalong, Gubernur Haga mengungsi ke Kuala Kapuas menuju Puruk Cahu, Murung Raya.
10 Februari 1942 : Tentara Jepang memasuki Banjarmasin, sejak 6 Februari 1942 pemerintahan kota sudah vacum.
Februari 1942 : Dengan persetujuan walikota Banjarmasin H. Mulder dibentuk Pimpinan Pemerintahan Civil (PPC) diketuai Mr. Rusbandi, sebagai pemerintahan sementara.
12 Februari 1942 : Tentara Jepang mengeluarkan maklumat kota Bajarmasin dan daerahnya diserahkan kepada PPC (Pimpinan Pemerintahan Civil)
5 Maret 1942 : A.A Hamidhan menerbitkan surat kabar Kalimantan Raya
18 Maret 1942 : Kiai Pangeran Musa Ardi Kesuma ditunjuk Jepang sebagai Ridzie, penguasa penuh dan tertinggi pemerintah sipil meliputi wilayah Banjarmasin, Hulu Sungai dan Kapuas-Barito (Dayak Besar).
17 April 1945 : Rakyat Banjarmasin mulai diwajibkan memberi hormat dengan membungkukkan badan kepada setiap tentara Jepang baik yang naik sepeda, mobil dan sebagainya.
6 Mei 1945 : Pembentukan TRI pasukan MN 1001, MKTI (MN=Muhammad Noor)
18 Agustus 1945 : Pemerintahan Sukarno-Hatta menunjuk Ir. H. Pangeran Muhammad Noor sebagai gubernurKalimantan
23 Agustus 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GEMIRI (Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia) di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
Agustus 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Badan Pemberontak Rakyat Kalimantan di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
23 September 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Pasukan Berani Mati di Alabio, Hulu Sungai Utara.
November 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Laskar Syaifullah di Haruyan, Hulu Sungai Tengah.
20 November 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GERPINDOM (Gerakan Rakyat Pengajar/Pembela Indonesia Merdeka) di Amuntai, Hulu Sungai Utara.
1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GERPINDOM (Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka) di Birayang, Hulu Sungai Tengah, Barisan Pelopor Pemberontakan (BPPKL) di Martapura, Banjar dan Banteng Borneo di Rantau, Tapin serta Laskar Hasbullah di Martapura, Pelaihari, Rantau dan Hulu Sungai.
7 Desember 1945 : Pertempuran Marabahan di Barito Kuala.
21 Desember 1948 : Pertempuran Hawang, Hulu Sungai Tengah.
2 Januari 1949 : Pertempuran di Negara di Hulu Sungai Selatan (Palagan Nagara).
6 Februari : Pertempuran Pagatan di Tanah Bumbu.
17 Mei 1949 : Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan oleh Letkol. Hasan Basry (Pahlawan Nasional).
3 Juni 1949 : Pertempuran Serangan Umum Kota Tanjung di Tabalong.
15 April 1949 : Pertempuran Batakan di Tanah Laut.
8 Agustus 1949 : Pertempuran Garis Demarkasi di Karang Jawa, Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
9 November 1949 : Pertempuran di Banjarmasin.
1 Mei 1952 : Berdirinya Kabupaten Amuntai.
14 Januari 1953 : Perubahan nama Kabupaten Amuntai menjadi Kabupaten Hulu Sungai Utara.
23 September 1953 : Wafatnya Ratu Zaleha, putri Sultan Muhammad Seman, sebelumnya diasingkan di Cianjur.
7 Desember 1956 : Terbentuknya provinsi Kalsel yaitu gabungan dari Kotawaringin, Dayak Besar, Daerah Banjar dan Federasi Kalimantan Tenggara. Belakangan Pasir (bagian Federasi Kalimantan Tenggara) bergabung ke provinsi Kalimantan Timur.
23 Mei 1957 : Wilayah Kotawaringin dan Dayak Besar membentuk provinsi Kalimantan Tengah.
10 November 1991 : Peresmian Museum Wasaka oleh Gubernur Kalsel Ir. H. Muhammad Said
23 Mei 1997 : Peristiwa Jumat Kelabu di Banjarmasin, kampanye pemilu yang berakhir kerusuhan bernuansa SARA (partai)
2005 : Terpilihnya H. Rudi Arifin sebagai gubernur untuk masa jabatan 2005-2009
Kelompok etnik di Kal-Sel menurut Museum Lambung Mangkurat, antara lain :
Orang Banjar Kuala, Banjarmasin sampai Martapura,
Orang Banjar Batang Banyu, Margasari sampai Kelua
Orang Banjar Pahuluan, Tanjung sampai Pelaihari (luar Martapura)
Suku Barangas di Berangas, Ujung Panti, Lupak, Aluh Aluh
Suku Bakumpai di Bakumpai, Marabahan, Kuripan, Tabukan
Suku Maanyan: Dayak Warukin, Pasar Panas, Dayak Balangan,Dayak Samihim
Suku Abal di Kampung Agung sampai Haruai
Suku Dusun Deyah di Muara Uya, Gunung Riut, Upau
Suku Lawangan di , Muara Uya Utara
Suku Bukit di Awayan(Dayak Pitap), Haruyan, Hantakan, Loksado, Piani, Paramasan, Bajuin, Riam Adungan, Sampanahan, Hampang
Orang Madura Madurejo di Pengaron, Mangkauk
Orang Jawa Tamban di Purwosari
Orang Cina Parit di Pelaihari
Suku Bajau di Kotabaru, Tanjung Batu
Orang Bugis Pagatan di Pagatan
Suku Mandar di pulau Laut dan pulau Sebuku
(Sumber : Peta alam dan foto kelompok etnik Kalimantan Selatan, Museum Lambung Mangkurat).
Delapan etnik terbanyak di Kal-Sel menurut sensus 2000 (Dalam sensus belum disebutkan beberapa suku kecil yang merupakan penduduk asli) :Nomor Sukubangsa Jumlah
1. suku Banjar 2.271.586 jiwa
2. suku Jawa 391.030 jiwa
3. suku Bugis 73.037 jiwa
4. Suku Madura 36.334 jiwa
5. Suku Bukit (Dayak Meratus) 35.838 jiwa
6. Suku Mandar 29.322 jiwa
7. Suku Bakumpai 20.609 jiwa
8. Suku Sunda 18.519 jiwa
9. Suku-suku lainnya 99.165 jiwa
Kelompok etnik berdasarkan urutan keberadaannya di Kalsel:
Austrolo-Melanosoid (sudah punah)
Dayak (rumpun Ot Danum)
Suku Dayak Bukit
Suku Banjar (1526)
Suku Bajau, Suku Bugis (1750), Suku Mandar
Suku Jawa, Suku Madura
Etnis Tionghoa-Indonesia, Etnis Arab-Indonesia
Etnis Eropa (1860-1942, sudah punah)
Bahasa Daerah
Bahasa Melayu Lokal :
Bahasa Banjar (bjn)
Dialek Banjar Hulu
Dialek banjar Kuala
Bahasa Barangas)
Bahasa Melayu Bukit (bvu)
Bahasa Barito
Barito barat
Barito barat bagian selatan :
Bahasa Bakumpai [bkr]
Barito timur
Barito timur bagian utara :
Bahasa Lawangan-Pasir(lbx)
Barito timur bagian Tengah-Selatan
Bagian Tengah :
Bahasa Dusun Deyah [dun]
Bagian Selatan :
Bahasa Maanyan [mhy]
Agama
Mayoritas Islam
Daftar Kabupaten dan KotaNo. Kabupaten/Kota Ibu kota
1. Kabupaten Balangan Paringin
2. Kabupaten Banjar Martapura
3. Kabupaten Barito Kuala Marabahan
4. Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kandangan
5. Kabupaten Hulu Sungai Tengah Barabai
6. Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai
7. Kabupaten Kotabaru Kotabaru
8. Kabupaten Tabalong Tanjung
9. Kabupaten Tanah Bumbu Batulicin
10. Kabupaten Tanah Laut Pelaihari
11. Kabupaten Tapin Rantau
12. Kota Banjarbaru -
13. Kota Banjarmasin -
Daftar gubernur
Mulai dari 1945-1957 gubernur mengepalai provinsi Kalimantan
1. Ir. Pangeran Muhammad Noor 2 September 1945 -
2. dr. Murjani 14 Agustus 1950 1953
3. Mas Subarjo 1953 1955
4. Raden Tumenggung Arya Milono 1955 1957
Selanjutnya tahun 1957 sebutan provinsi Kalimantan menjadi Provinsi Kalimantan Selatan
1. Syarkawi 1957 1959
2. Maksid 1959 1963
3. Abu Jahid Bastomi 1963 1963
4. Aberani Sulaiman 1963 1968
5. Jamani 1968 1970
6. Subarjo Sosroroyo 1970 1980
7. Mistar Cokrokusumo 1980 1984
8. Muhammad Said 1984 1995
9. Gusti Hasan Aman 1995 2000
10. Sjachriel Darham 2000 Maret 2005
11. Tursandi Alwi Maret 2005 5 Agustus 2005 Penjabat Gubernur
12. Rudy Ariffin 5 Agustus 2005 sekarang
Daerah Pemilihan DPR 2009
Nomor Daerah Jumlah kursi
1 Kalimantan Selatan I 6 kursi
2 Kalimantan Selatan II 5 kursi
Daerah Pemilihan DPRD 2009
Nomor Daerah Jumlah kursi
1 Kalimantan Selatan I - kursi
2 Kalimantan Selatan II - kursi
3 Kalimantan Selatan III - kursi
4 Kalimantan Selatan IV - kursi
5 Kalimantan Selatan V - kursi
6 Kalimantan Selatan VI - kursi
Seni dan Budaya
Seni Karawitan
Gamelan Banjar
Musik Panting (suku Banjar)
Musik Kangkurung/Kukurung (suku Dayak Bukit)
Musik Bumbung
Musik Kintung
Musik Kangkanong
Musik Salung
Musik Suling
Musik Bambang
Musik Masukkiri (suku Bugis)
Teater tradisional dan wayang
Mamanda (teater tradisional suku Banjar)
Lamut (suku Banjar)
Madihin (suku Banjar)
Wayang Kulit Banjar (suku Banjar)
Wayang Gung (wayang orang suku Banjar)
Balian(suku Dayak Bukit)
Tarian
Tarian suku Banjar:
Baksa Kambang
Radap Rahayu
Kuda Gepang
Tarian suku Banjar lainnya
Tarian suku Dayak Bukit:
Tari Tandik Balian
Tari Babangsai (tarian ritual, penari wanita)
Tari Kanjar (tarian ritual, penari pria)
Lagu
Lagu Daerah suku Banjar:
Ampar-Ampar Pisang
Sapu Tangan Babuncu Ampat
Paris Barantai
Lagu daerah Banjar lainnya
Rumah Adat
Rumah Adat Suku Banjar disebut Rumah Bubungan Tinggi Rumah Adat Suku Dayak Bukit disebut Balai
Pakaian Adat
Busana Pengantin Banjar
Pakaian Pengantin Suku Banjar ada 4 jenis:
Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut
Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari
Pengantin Babaju Kun Galung Pacinan
Pangantin Babaju Kubaya Panjang
Pakaian Pemuda Pemudi:
Pakaian Nanang dan Galuh Banjar
Pariwisata
Banjarmasin
Komplek Makam Sultan Suriansyah
Komplek Makam Pangeran Antasari
Masjid Sultan Suriansyah
Pasar Terapung Muara Kuin
Pasar Terapung Lok Baintan
Festival Nanang dan Galuh Banjar
Museum Wasaka
Kubah Surgi Mufti
Sasirangan
Banjarbaru
Museum Lambung Mangkurat
Barito Kuala
Pulau Kembang
Pulau Kaget
Hulu Sungai Selatan
Loksado (Wisata Alam Pegunungan dan Arung Jeram, Balian)
Peninggalan Sejarah dan Purbakala
Peninggalan sejarah dan purbakala :
Masjid Sultan Suriansyah di Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin
Komplek Makam Sultan Suriansyah di Banjarmasin Utara, Banjarmasin
Komplek Makam Pangeran Antasari di Banjarmasin Tengah, Banjarmasin
Makam Surgi Mufti di Surgi Mufti,Banjarmasin Tengah, Banjarmasin
Makam Ratu Zaleha di Banjarmasin Tengah, Banjarmasin
Rumah Bubungan Tinggi Teluk Selong Ulu di Teluk Selong Ulu, Martapura, Banjar
Rumah Gajah Baliku Teluk Selong Ulu di Teluk Selong, Martapura, Banjar.
Rumah Balai Bini Desa Teluk Selong Ulu di desa Teluk Selong Ulu, Martapura, Banjar.
Rumah Palimbangan Desa Pasayangan di Pasayangan, Martapura, Banjar.
Makam Datu Ambulung di Martapura, Banjar.
Masjid Jami Sungai Batang di Martapura, Banjar
Monumen ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Gambut, Banjar
Makam Sultan Adam di Kelurahan Jawa Martapura, Banjar
Makam Sultan Inayatullah di Kampung Keraton Martapura, Banjar
Makam Sultan Sulaiman Saidullah di Desa Lihung, Karang Intan, Banjar
Benteng Tabanio di Tanah Laut
Makam Keramat Istana, di Tanah Laut
Makam Datu Ingsat di Tanah Laut
Candi Laras di Kecamatan Candi Laras Selatan, Tapin
Masjid Almukarromah di Banua Halat Kiri, Tapin
Makam Datu Sanggul di Tatakan, Tapin
Masjid Gadung Keramat di Tapin
Rumah Bubungan Tinggi Desa Lawahan, Tapin
Masjid Su'ada di Wasah Hilir, Simpur, Hulu Sungai Selatan
Benteng Gunung Madang, di Sei Madang, Hulu Sungai Selatan
Makam Haji Saadudin di Taniran, di Hulu Sungai Selatan
Makam Datu Patinggi Mandapai di Hulu Sungai Selatan
Makam Tumpang Talu di Hulu Sungai Selatan
Gedung Musyawaratutthalibin di Simpur, Hulu Sungai Selatan
Rumah Bubungan Tinggi Desa Tibung di Kandangn, Hulu Sungai Selatan
Rumah Bubungan Tinggi Desa Baruh Kambang di Negara, Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan
Rumah Bubungan Tinggi Desa Habirau di Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan
Rumah Perjuangan di Karang Jawa, Kandangan, Hulu Sungai Selatan
Rumah Perjuangan di Durian Rabung, Hulu Sungai Selatan
Rumah Bersejarah di Simpur, Hulu Sungai Selatan
Monumen 17 Mei, Niih, di Hulu Sungai Selatan
Masjid Keramat Pelajau di Hulu Sungai Tengah
Makam 23 Pejuang di Hulu Sungai Tengah
Makam Pangeran Kacil di Hulu Sungai Tengah
Makam Tumenggung Jayapati di Hulu Sungai Tengah
Candi Agung di Paliwara, Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara
Masjid Tua Sungai Banar di Hulu Sungai Utara
Masjid Jami Assuhada di Hulu Sungai Utara
Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi di Hulu Sungai Utara
Masjid Basar Pandulangan di Hulu Sungai Utara
Masjid Pusaka dan Makam Penghulu Rasyid di Banua Lawas, Tabalong
Makam Gusti Buasan di Tabalong
Masjid Jami Puain Kanan di Tanta, Tabalong
Goa Babi di Desa Randu, Muara Uya, Tabalong
Makam Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari di Kelua, Tabalong
Makam Ratu Intan di Bakau, Pamukan Utara, Kotabaru
Kompleks Makam Raja-raja Kotabaru di Pulau Laut Utara, Kotabaru
Makam Syekh Haji Muhammad Arsyad di Tanah Bumbu
Makam Pangeran Agung di Tanah Bumbu
Makam Haji Japeri di Barito Kuala
Makam Panglima Wangkang di Marabahan, Barito Kuala
Rumah Bulat (Rumah Joglo Desa Penghulu) di desa Penghulu, Marabahan, Barito Kuala
Rumah Gajah Baliku Desa Penghulu di Marabahan, Barito Kuala
Makam Datuk Aminin di Barito Kuala
Rujukan
de Bruyn, W.K.H.F.; Bijdrage tot de kennis van de Afdeeling Hoeloe Soengai, (Zuider a Ooster Afdeeling van Borneo), 19--.
Broersma, R.;Handel en Bedrijf in Zuiz Oost Borneo, S'Gravenhage, G. Naeff, 1927.
Eisenberger, J.; Kroniek de Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo, Bandjermasin, Drukkerij Lim Hwat Sing, 1936.
Bondan, A.H.K.; Suluh Sedjarah Kalimantan, Padjar, Banjarmasin, 1953.
Ras, J.J.; Hikajat Bandjar, A study in Malay Histiography, N.V. de Ned. Boeken, Steen Drukkerij van het H.L. Smits S'Graven hage, 1968.
Heekeren, C. van.; Helen, Hazen en Honden Zuid Borneo 1942, Den Haag, 1969.
Riwut, Tjilik; Kalimantan Memamnggil, Penerbit Endang, Djakarta.
Saleh, Idwar; SEJARAH DAERAH TEMATIS Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan, Depdikbud, Jakarta, 1986.
This entry was posted
on 17:33
and is filed under
Kalimantan Selatan
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
.


0 komentar