Duduk bukan Dhudhu

Aku sedang duduk, duduk memang sebuah aktifitas rileksasi buat kita, sebuah kegiatan dimana kita sudah merasa penat berdiri atau melakukan aktifitas lain-berlari misalnya dan sebagainya!..duduklh tentunya hal lumrah yang biasa kita lakukan setelahnya, .... yang dipergunakan sebagai alat praktisnya tentulah tempat duduk, dengan mengatur bagian bokong ke alas duduk sembari mencondongkan badan  kearah sandaran ini adalah satu kenikmatan hidup, bahkan saking khusuk nya, salah-salah kita bisa tertidur padahal jelas-jelas digenggaman kita ada sejumlah buku yang seyogyanya kita selesaikan untuk membaca hari ini karena kebetulan jatah pinjamnya sdh habis he..!atau niatan awal kita adalah menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor sambil bersantai pun merencanakan bagaimana sebaiknya mensejahterakan keluarga hari esok, tapi tak mengapalah kompensasi sdh terbayar lunas ko dengan suara dengkuran kita yang keras sampai-sampai tetangga sebelah tau kalo kita sedang berpacu dengan porsneling mimpi seri tiga kita dengan kenyataan bahwa waktu adalah jalan raya yang semakin lama bukan bertambah lebar atau licin seperti latasir dan hotmik buatan korea, tetapi tak lebih dari jalan yang akhirnya menyempit masuk....kedalam gang dan akhirnya buntu.  Ini adalah sebuah wacana yang saya buat-buat tentang duduk....ya hanya sekedar wacana, saya berharap mudah-mudahan wacana ini tidak berlaku buat yang lain khususnya dalam periode pemilhan umum dan beberapa pilkada didaerah.  Ngeri dan nyeri rasanya kalo para pimpinan daerah dan dewan yang terhormat justru menerapkan  konsep duduk dan kursi seperti bayangan saya diatas.....mereka mencari kenyamanan, rileksasi dan memanfaatkan waktu luangnya mereka  justru dikursi yang salah!, kursi yang sebenarnya lebih tepat dipakai untuk bekerja dan berfikir keras....mudah-mudahan ini hanya terjadi kemarin, dimana beberapa anggota dewan yang terhormat jusru terlelap sehingga dengkurannya menjadi nyanyian nina bobo bagi rakyat dibawah yang sedang bergelut dan bekerja kasar mengangkat batu kesejahteraan yang sangat besar yang sebetulnya kalau diusung di pundak rakyat sangatlah terlalu berat, mudah-mudahan ini hanya terjadi semalam dimana para eksekutif - legislatif tergugah hatinya atau mau berfikir tentang rakyatnya hanya pada saat mereka dibutuhkan yaitu membuka kantung suara mereka untuk diisi carikan kertas bahwa masyarakat telah memilihnya melalui pemilu yang jurdil dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya berdasarkan kader dan daerah binaan katanya..., begitu sulitkah dekat dengan rakyat sehingga untuk turun langsung kemasyarakat butuh waktu 5 tahun sekali ? atau menunggu cair dan jelasnya biaya perjalanan dinas anggota atau bahkan menunggu  ketuk palu pemerintah akan persetujuan peningkatan tunjangan dan fasilitas mobil dinas yang mewah.....tak taulah aku hanya berharap tak perlu lagi ada undangan untuk halal bi halal atau berbuka puasa bersama dari anggota yang terhormat pada saat musim pesta demokrasi akan tiba tapi setelahnya mereka paceklik untuk rakyat, lupa dan bahkan terlelap sampai mendengkur hingga musim berikutnya. 

This entry was posted on 00:40 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langgan: Poskan Komentar (Atom) .

0 komentar